MEMANFAATKAN INTERNET AGAR DAPUR TETAP NGEBUL SELAMA PANDEMI

Permasalahan utama saat Covid-19 adalah bagaimana orang menjaga diri agar tidak tertular atau menularkan virus serta tetap mendapatkan penghasilan agar periuk dapur tetap kebul-kebul. Bagaimana caranya? 

ilustrasi header transparant

Sejak dinyatakan sebagai pandemi global, 215 negara di dunia menghadapi darurat kesehatan dan harus menyelamatkan warganya dari ancaman COVID-19. Tak ada satu pun negara yang benar-benar siap dengan pandemi ini. Faktanya virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China, ini telah merenggut ratusan ribu jiwa di seluruh dunia.

Tak hanya kematian. Virus yang konon berasal dari kelelawar ini juga menyebabkan dampak lain yang lebih luas terutama pada sektor ekonomi. Jangankan negara kita, negara-negara besar dengan fondamental ekonomi kuat seperti saja mengalami kontraksi perekonomian yang hebat karena permintaan, produksi hingga supply chain terganggu akibat virus ini.

Dunia usaha seperti cacing di tanah lapang yang panas, menggelepar. Roda ekonomi nasional terseok-serok seperti pedati kehilangan satu rodanya. Banyak perusahaan terpaksa menutup usahanya. Ya, PHK pun tak terelakkan yang berimplikasi pada kenaikan angka pengguran dan kemiskinan. 

Tak hanya kematian. virus yang konon berasal dari kelelawar ini juga menyebabkan dampak lain yang lebih luas terutama pada sektor ekonomi.

jengyuni.com

Bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah, Covid-19 menyebabkan hidup menjadi tambah berat dan sulit. Lebih-lebih mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya pada sektor informal. Pendapatan dan penghasilan menurun drastis.

Menurunnya penghasilan ini berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat secara umum yang menyebabkan banyak usaha bermodal kecil harus tutup, seperti yang saya alami.

Catatan PHK

Selama Pandemi

LIPI dan Lembaga Demografi FEBUI

LAPANGAN PEKERJAAN
JENIS PEKERJAAN
KONDISI PENDAPATAN
TINGKAT PENDIDIKAN
Perdagangan, Rumah Makan, Akomodasi 24 %
Jasa Kemasyarakatan 17 %
Industri Pengolahan 15 %
Transportasi, Komunikasi, Pergudangan 14 %
Pendapatan Tetap 43 %
Pendapatan Berkurang <30% 20 %
Tak Ada Pendapatan 16 %
Pendapatan Berkurang 30-50% 11 %
Pendapatan Berkurang 50% 10 %
SMA 50 %
Diploma 11 %
Sarjana 30 %
Tenaga Usaha Jasa 24 %
Tenaga Profesional, Teknisi dan Sejenisnya 22 %
Tenaga Tata Usaha dan Sejenisnya 15 %
Tenaga Produksi, Operator Alat Angkutan, Tenaga Kasar 13 %
Tenaga Kepemimpinan, Ketatalaksanaan 9 %
Tenaga Usaha Penjualan 9 %
ilustrasi PHK
hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15

COVID-19

Bikin Usahaku Tutup.

Saya itu salah satu dari jutaan orang yang terkena dampak Covid-19. Sebagai orang yang baru merintis usaha di sektor informal dengan mendirikan kedai makan kecil di kampung, saya merasakan betul betapa beratnya mengais rupiah demi rupiah di masa pandemi.

 

Sebelum Covid, kedai makan di garasi rumah dengan nama  “Kedai Nok Evi” yang saya kelola bersama kakak ini lumayan ramai. Namun kondisi berubah drastis ketika lingkungan tempat tinggal saya dinyatakan sebagai zona merah penyebaran Covid-19 berasal dari kluster Goa.

Pemerintah desa pun menerapkan kebijakan lockdown secara parsial dalam perspekif Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini diambil sebagai langkah pencegahan menyebarnya virus mematikan ini.

Sebenarnya saya memahami bahwa kebijakan ini dan percaya mampu memutus mata rantai penyebaran virus, namun di sisi lain juga mengakibatkan masalah baru bagi masyarakat.

Pembatasan sosial menyebabkan aktivitas ekonomi warga menjadi terbatas pula karena akses jalan banyak yang ditutup. Orang-orang engan ke luar rumah karena takut tertular. Otomatis pengunjung kedai turun drastis. Seringkali bahkan seharian tak ada yang datang.

lockdown
lockdown2

...kondisi berubah drastis ketika lingkungan tempat tinggal saya dinyatakan sebagai zona merah penyebaran Covid-19 berasal dari kluster Goa.

jengyuni.com

Tentu saja kedai makan bermodal kecil dengan omset di bawah 20 juta per bulan ini merugi. Alih-alih untung, modal saja tak kembali. Bahkan puncak dari kejadian ini, warung terpaksa saya tutup selama PSBB .

Iyalah! Tutupnya kedai semakin menambah berat perekonomian keluarga. Periuk dapur benar-benar tumbang, ikut-ikutan “terinfeksi” Covid-19. Untuk bertahan hidup, keluarga hanya mengandalkan tabungan dan hasil menjual beberapa aset keluarga.Ah !

MENGGUNAKAN INTERNET

Saya Memanfaatkan Momentum Covid-19

Untuk Menaikkan Penghasilan

Pelonggaran PSBB menjadi kabar gembira. Kebijakan pemerintah dalam rangka “New Normal Life” ini memunculkan semangat untuk membuka kembali kedai makan yang tutup.

Boleh dibilang pelonggaran PSBB merupakan momentum yang saya tunggu-tunggu. Andai saja PSBB tidak segera dilonggarkan , mungkin saya akan kehilangan lebih banyak lagi properti keluarga untuk makan sehari-hari.

Ya, kedai makan memang menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga. Bila tutup maka kehidupan keluarga pun menjadi pincang. Karena itu, maka entah bagaimana caranya kedai harus tetap buka.

Hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan perbaikan tempat kembali, menambah berapa menu baru, membuat material  publikasi seperti banner dan roundtage jalan. Tak lupa saya juga membuat brosur untuk disebar ke rumah-rumah warga secara door to door, group WA maupun media sosial.

Ya, kedai makan memang menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga. Bila tutup maka kehidupan keluarga pun menjadi pincang. Karena itu, maka entah bagaimana caranya kedai harus tetap buka.

jengyuni.com

Secara eksplisit, hal ini saya maksudkan untuk memberi informasi kepada para pelanggan bahwa kedai makan sudah buka kembali. Para pelangga bisa datang ke kedai seperti dulu lagi (offline). Seperti itu.

hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15
banner warung
banner1
BROSUR
soto
penyet tempe
lle
tahu oser
lengko

Brosur

Beberapa Menu

Roundtage

Banner Kedai

Namun, harapan masih menjadi harapan. Setelah buka, entah kenapa pengunjung kedai makan tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Masih sepi. Hanya melayani beberapa pelanggan setiap harinya. Itu pun dari tetangga kanan kiri yang mungkin karena kasihan atau entahlah. 

Saya jadi bertanya-tanya. Ada dan kenapa ini? Berhari-hari saya memikirkan itu. Benar atau tidak saya menduga, walaupun PSBB sudah mulai dilonggarkan namun masyarakat masih enggan untuk keluar rumah kalau hanya sekedar untuk makan. Tentu saja masih takut tertular virus Corona. 

Saya berfikir sepertinya masyarakat lebih senang “dilayani” di rumah ketimbang harus ke luar rumah. Dari sini saya memutar otak bagaimana bisa menjangkau mereka. Peluang masih belum tertutup. Pasti ada cara, pikir saya. 

Seperti mendapat ilham, akhirnya saya mendapat ide untuk mengonlinekan kedai makan. Tujuan saya adalah bisa menjangkau pelanggan-pelanggan dengan layanan antar. Selain itu untuk membidik pelanggan yang berasal dari luar kampung, terutama instansi-instansi. 

Mendaftar Ke Aplikasi Pesan Antar Makanan

Hal pertama yang saya lakukan adalah mendaftarkan kedai ke aplikasi pesan antar makanan online, Gofood. Setelah membutuhkan waktu hingga 5 hari akhirnya kedai makan saya sudah bisa dipesan melalui aplikasi tersebut. 

Masuknya kedai makan saya di Gofood sebenarnya memberi sedikit kebahagiaan. Namun, masih belum sesuai harapan. Ibarat kata masih seperti orang puasa senin kamis, kadang ada kadang tidak. Sehari belum tentu ada yang beli melalui GoFood. 

Bisa jadi karena orang-orang tahu kalau harga beli makanan via aplikasi ini jatuhnya lebih mahal karena terjadi uping harga untuk bagi hasil dengan GoFood. Selain itu pemilik usaha harus rajin-rajin “bakar uang” dengan mengikuti promo agar bisa tampil di “top search” GoFood. Ya, kebijakannya memang begitu.

gOBIZ
hand-drawn-arrow_15

Dashboard Gobiz GoFood

Membuat Website Untuk Kedai Makan

Hal kedua yang saya lakukan adalah membuat website khusus untuk kedai makan. Saya pikir karena saya punya keinginan untuk membidik pelanggan di luar kampung khususnya instansi-instansi maka website masuk akal menurut saya. 

Website setidaknya akan meningkatkan kredibilitas kedai makan saya, memudahkan pelanggan mendapatkan informasi yang lebih komprehensif serta lebih menghemat dana ketimbang cetak brosur berwarna yang satu rim-nya bisa sampai Rp. 950.000.

Mulailah saya memikirkan dan mencari nama domain yang merepresentasikan identitas kedai makan. Saya mengunjungi website beberapa ISP untuk ngecek ketersediaan nama domain yang saya inginkan. Akhirnya saya menggunakan nama kedai sebagai nama domain dengan extention .online, yakni kedainokevi.online. 

Sebenarnya saya ingin beli domain sekalian hostingnya. Namun karena keterbatasan dana untuk sementara hostingnya “numpang” di hosting yang saya gunakan untuk ngeblog ini.

Selama hampir tiga hari saya mencoba membangun website. Cukup lama memang karena saya tidak terlalu ahli untuk membuat website. Itu pun dibantu tutorial-tutorial dari berbagai sumber.

Platform yang saya pergunakan adalah WordPress, platform sejuta umat yang paling banyak dipakai orang sedunia. Sedangkan templatenya menggunakan template bawaan WordPress, Twenty-Twenty, dengan beberapa plugin tambahan khusus restaurant.

Loadingnya sedikit lama dan agak berat. Maklum saja karena website Worpdress harusnya menggunakan hosting khusus WordPress pula. Sedangkan hosting yang saya pakai adalah hosting general level entry dengan kapasitas cuman 2 GB.

Halaman Layanan
Memberi informasi tentang layanan yang disediakan kedai

Halaman Kotak agar calon pelanggan dan pelanggan mengetahui jam buka kedai, lokasi kedai serta nomor kontak yang bisa dihubungi untuk pesan antar

Komitmen kedai dalam memberikan layanan bagi pelanggan

Detail menu yang tersedia beserta penjelasan dan harga

hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15
hand-drawn-arrow_15

Setelah website jadi, saya mulai “bergerilya” membuat email penawaran yang saya sisipi link website kepada instansi-instansi baik pemerintah maupun swasta yang ada di Brebes. Terutama dalam radius yang memungkinkan bisa dijangkau layanan antar karena Brebes mempunyai wilayah yang sangat luas.

Dari sinilah akhirnya peluang dan keberuntungan menaikkan penghasilan terbuka. Dan saya harus bilang kalau internet dan website memang ajaib karena hal yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.

Tak sampai tiga hari beberapa instansi yang saya kirimi email penawaran mulai merespon bahkan ada yang meminta saya datang ke kantornya untuk minta penjelasan lebih lanjut.

Tanpa saya saya duga, sebuah bank lokal malah langsung meminta saya menyediakan makan siang untuk 70 karyawannya setiap hari. Begitu juga dengan dua dealer sepeda motor. Itu belum instansi-instansi kecil di sepanjang jalan Raya Kaligangsa Wetan dan event-event temporer seperti meeting dan sebagainya.

Andai saja saya tidak tergerak memanfaatkan internet untuk membuat website kedai, dan hanya mengandalkan aplikasi online serta pelanggan dari lingkungan sekitar maka periuk nasi sudah tumbang. 

Situasi memang berbalik arah sejak hadirnya website tersebut. Bisa dibilang ini sebuah “Blessing in Disguise”  bahwa dalam kemalangan karena pandemi justru ada peluang bisnis yang menguntungkan. Dan saya membuktikannya. 

Bahkan untuk melayani permintaan pelanggan-pelanggan dari instansi, kedai yang semula hanya dijalankan oleh dua orang dibantu suami dan keponakan, kini saya harus merekrut 2 (dua orang) untuk membantu saya. 

Walaupun demikian, kedai tetap buka setiap hari untuk pelanggan-pelanggan yang berasal dari lingkungan sekitar dengan cara pesan antar melalui WA.

Allah itu Maha Baik!   

Makan Siang BPD
Makan Siang BPD
makan Siang Dealer
makaan-siang-dealer-dealer
BPD
Makan siang BPD

AKHIRNYA,

Terima kasih telah membaca artikel berjudul “Memanfaatkan Internet Agar Dapur Tetap Ngebul Selama Pandemi” ini. 

Saya berharap artikel yang saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi ini bermanfaat dan bisa memberi inspirasi. Ya, pandemi covid-19 memang masih belum ada indikasi kapan berhenti namun ada sisi menarik yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan dan menaikkan penghasilan.

Kecenderungan orang enggan ke luar rumah adalah peluang. Dengan internet dan website kita bisa membuatnya menjadi menguntungkan.

Terima kasih. Semoga bermanfaat.