Hadiah Untuk Pak Nahkoda

Orang Tersayang bagian dari kebahagiaan Bahagia itu sederhana. Kebahagiaan tidak selalu tentang harta yang melimpah, piknik keluar negeri atau makan di restoran yang mahal. Bagi saya, kebahagiaan adalah bila sehat jiwa raga, tercukupi kebutuhan hidup, beribadah dengan tenang, bisa berbagi dan berkumpul bersama keluarga serta orang tersayang . I am happy and very happy karena dikelilingi oleh orang-orang tersayang dan juga selalu menyayangiku. Siapakah orang yang tersayang itu?

Orang Tersayang adalah orang yang menyayangiku tanpa batas, mendukung dan memberi motivasi ketika aku membutuhkan. Dia juga selalu merelakan bahunya untuk bersandar serta menyediakan pangkuannya ketika saya ingin menangis dan berkeluh kesah. Lebih dari itu orang tersayang selalu hadir disampingku ketika orang lain tiada.

Dalam hal ini, orang tualah yang menempati kasta tertinggi sebagai orang yang paling saya sayang. Tanpa beliau berdua mana mungkin saya ada.

Sebenarnya ini adalah kenyataan umum dan naluri dasar setiap manusia. Maka akan sangat aneh bila orang tua menempati urutan kesekian dalam list sebagai orang yang paling disayang.

Orang Tersayang

Siapa Lagi Orang Tersayang Bagi Saya?

Selain orang tua, yang menempati posisi sebagai orang tersayang adalah mantan pacar yang kini menjadi ayah dari anak-anakku yakni suamiku. Kata “ter” saya maksudkan sebagai “paling” dan bukan berarti meniadakan keberadaan anak-anak dan keluarga yang lain. Pertanyaannya, kenapa orang tersayang adalah suami ?

Saya adalah perempuan yang dibesarkan dalam tradisi dan budaya Jawa yang penuh dengan falsafah-falsafah kehidupan luar biasa. Salah satu falsafah yang menjadi pandangan hidup saya adalah bahwa istri itu “Surgo Nunut, Neroko Katut” (Surga ikut, Neraka tersangkut).

Ini adalah bahasa kiasan, teman. Maknanya adalah bahwa setelah menikah maka hak sepenuhnya atas diri saya adalah milik suami. Suami adalah pemimpin bahtera rumah tangga sekaligus imam bagiku.

Ibarat tubuh, saya dan suami adalah satu jiwa. Oleh sebab itu apapun yang dilakukan suami akan merembes dan berdampak kepada saya pula. Inilah maknanya.

Jadi, tidak alasan bagi saya untuk tidak berbhakti, memberikan kasih sayang dan mendukukungnya sepanjang arah kemudi bahtera rumah tangga melaju di jalan yang benar baik secara keyakinan maupun hukum positif.

 

Saya bersyukur bahwa selama lebih dari 15 tahun sejak suami mengucapkan Qobiltu Nikahaha di depan penghulu, laju bahtera rumah tangga yang dinahkodai suami mampu memecah riak gelombang dan hembusan angin kencang dengan baik.
Kalau toh pun harus oleng ke kanan dan ke kiri, itu wajar karena begitulah cara nahkoda menghindari batu karang agar bahtera tidak tenggelam.
Itulah kenapa saya menempatkan suami sebagai orang tersayang, setelah orang tua. Tentu saja ini hanya salah satu dari sekian banyaknya jawaban.
Lebih-lebih ketika harus restrospeksi ke belakang, melihat perjalanan panjang selama hampir 21 tahun kebersamaan yang penuh dengan warna-warni dan suka duka dengan Pak Nahkodaku Tersayang.

Pak Nahkoda ? Iya, begitu saya biasanya berkelakar memanggil suami dengan julukan itu walaupun sama sekali dia tidak berprofesi sebagai nahkoda kapal yang berlayar dilautan, bahkan dia justru sangat takut dengan lautan.

Pak Nohkoda Tersayang Adalah Teman Kuliah

Jodoh memang rahasia Tuhan. Tidak bisa dirumus sama sekali. Ketika kecil saya suka berkhayal mempunyai suami orang Jepang, Eh, siapa sangka saya malah dipertemukan dengan orang paling katrok dan unik, teman kuliahku yang kini menjadi nahkoda bahtera rumah tanggaku.

Bagaimana tidak disebut katrok, ketika yang mahasiswa lain berpakaian serba modis, dia malah tampil slenge’an. Pakaian kebesarannya adalah celana jeans biru yang robek di bagian lutut dengan kaos hitam yang dirangkap baju “surjan” plus blangkon di kepalanya. Tampilannya persis seperti pemain ketoprak.

Tak kalah unik adalah tas untuk buku-buku kuliahnya. Tas yang setiap hari dipakainya terbuat dari baju yang lenganya dipotong kemudian dijahit dan diberi tali panjang untuk “cangklongan”. Kalau ke kampus dia jalan kaki dan sesekali menaiki sepeda kumbang tua seperti Oemar Bakrie dalam lagunya Iwan Fals.

“Oh my God, hari gini kok masih ada mahasiswa yang katrok ya.” Pikir saya.

Awalnya saya tidak terlalu akrab karena beda ‘genk’. Dia masuk genk para aktifis kampus sedangkan saya memilih “genk kutu buku” yang kalau kumpul selalu membahas tentang pelajaran kuliah.

Keakraban baru terjalin awal semester dua ketika saya dan dia sama-sama tergabung dalam UKM Kesenian Kampus. Hanya saja dia pilih ngeband dan saya lebih seneng “nguri-uri” kesenian tari tradisional.

Sejak tergabung dalam UKM Kesenian ini intensitas pertemuan pun semakin sering, lebih-lebih kalau akan diadakan pentas kolaborasi yang biasanya membutuhkan latihan bersama. Saya dan dia jadi sering ngobrol bertukar pikiran.

Saya tak menyangka bahwa di balik penampilan yang sak enake dewe itu, ternyata dia asik kalau diajak ngobrol. Lama kelamaan saya malah merasa nyaman dekat dengannya. Tambah hari pun tambah akrab bahkan sering menghabiskan waktu bersama.

Tuhan memang Maha Besar dan kuasa membolak-balikan hati hambanya. Bukan sulap dan bukan sihir, dari rasa nyaman itu mulai muncul rasa yang aneh dalam hati. Perasaan yang sulit untuk dilogika. Ada kangen kalau tidak ketemu dan ada rasa cemburu kalau dia akrab dengan mahasiswi lain. “Apakah saya sedang jatuh cinta ?”

Awalnya saya masih ragu dengan perasaan itu. Saya pikir hanya sebatas emosi sesaat atau simpati semata. Tetapi perasaan itu semakin menyiksa.

Berminggu-minggu saya mencoba meyakinkan diri kalau saya memang sedang jatuh cinta, untuk yang pertama kali dalam hidupku.

Kalau jodoh memang enggak kemana. Kakiku dan kaki dia seperti sudah diikat benang imajiner. Nampaknya perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan.

Dia ternyata juga menyimpan perasaan yang sama. Setidaknya ini dibuktikan dengan sebuah puisi yang terselip dalam buku yang dia pinjam. Puisi ini masih tersimpan dengan baik hingga saat ini.

Dik,
Sore ini aku rindu
Seperti hari-hari kemarin
Rinduku bagai bumi yang terus berputar
Atau angin yang berhembus
Di bawah bias cahaya mentari
Dik,
Aku juga kangen,
Seolah hatiku dibawa serta oleh senja yang kian menghitam
Karena langit tak lagi

Membaca dua bait puisi itu jiwa seperti melayang. Walaupun dia belum secara langsung mengatakan cintanya, tetapi saya yakin perasaan ini tidak bertepuk sebelah tangan. Saya pura-pura tidak tahu tentang puisi itu serta menahan diri untuk tidak mengumbar perasaan ini terang-terangan di depannya. Jelek-jelek begini saya masih memegang etika adat ketimuran, pantang bagi saya untuk mendahului. Hanya doa yang selalu aku panjatkan, “Ya Allah Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati manusia, apabila dia jodohku dekatkanlah dan apabila bukan jodohku, hilangkanlah perasaan ini ,”

Akhirnya Waktu Itu Tiba

Waktu pun berjalan seperti biasa, siang berganti malam dan
seterusnya hingga satu persatu peristiwa itu terjadi…

DOOOR ! Oh My God, akhirnya dia ‘menembakku’ juga, tepat di hari ulang tahunku yang ke-19. Dibawah sinaran cahaya rembulan, dia genggam erat jemari ini dan katakan “Yun, aku jatuh cinta denganmu, maukah engkau menjadi pacarku?”
What a perfect night and perfect moment. I am so happy ! Rasa-rasanya dunia milik berdua, yang lainnya pada ngontrak.

Mulailah petualang baru dalam hidupku. Sejak saat itu, saya dan dia seperti “Mimi dan Mintuno” selalu bersama dalam suka dan duka. Walaupun demikian kami berkomitmen menjaga kehormatan masing-masing, memahami kelebihan dan kekurangan serta saling nasehat menasehati dalam kebaikan. Itulah kenapa tidak sekalipun muncul masalah berat dalam perjalanan kisah cinta bersama dia.

Setelah wisuda, saya dan dia sempat terpisah cukup lama alias LDR. Kebetulan saya diterima bekerja di Perusahaan Daerah Percetakan Kabupaten Brebes, tempat kelahiran saya, sedangkan dia masih proses mencari kerja sambil membantu usaha kuliner keluarganya. Komunikasi hanya terjalin melalui surat karena tahun segitu HP belum terlalu populer. Tahun 2001 dia membuktikan janji-janji cintanya kepadaku, disaksikan kedua keluarga dia melamarku. Horeee..aku dilamar !!!

Setahun kemudian tepatnya bulan 02 tahun 2002 dia 100% menjadi suamiku, orang tersayang dalam hidupku, setelah mengucapkan ikrar penikahan di depan penghulu. Momen bersejarah dalam hidupku itu sebulan setelah dia bekerja pada perusahaan distributor home equipment di Purwokerto.

Saya masih inget betul saat menerima gaji pertamanya sebesar Rp 750.000 yang masih terbungkus amplop putih dengan stempel perusahaan tempatnya bekerja. Setelah menjadi nahkoda keluarga, dia mengajakku mencari rejeki halal mulai dari Purwokerto, Semarang, Mayong Jepara hingga terdampar dengan syahdu di Kalasan Sleman Jogjakarta ini.

Empat Alasan Sayang Kepada Pak Nahkoda

Pak Nahkodaku tersayang bukan siapa-siapa. Tetangga kanan kiri memanggilnya Pak Poer atau Pak Mbeng. Dia bukan ustadz atau kyai walaupun dia seneng memperlajari buku-buku agama. Dia juga bukan paranormal walaupun menyukai celana hitam dan berjanggut panjang dan yang pasti dia bukan pejabat negara.

Sehari-hari Pak Nahkodaku hanyalah ‘tukang masak’ terutama untuk menu-menu khas kedai makan yang sedang kami kelola seperti Tahu Oser, Pecak Bumbu Kambing (Ayam, Nila, Lele – satu-satunya yang ada di Jogja), dan Nasi Pindang (daging) khas Pantura. Ini adalah salah satu passion-nya sejak dulu.

Dari pacaran hingga sekarang saya paham betul Pak Nahkodaku itu orangnya bagaimana. Jadi saya hapal sekali di mana kekurangan dan apa kelebihan yang dimilikinya. Ini dia 4 (empat) kelebihan yang menjadi alasan kenapa Pak Nahkodaku adalah orang tersayang bagiku.

BERTANGGUNG JAWAB

Ya, orang tersayang bagiku ini adalah orang yang bertanggung jawab dan berupaya merealisasikan janji-janjinya satu per satu yang diucapkan ketika pacaran dulu. Setidaknya ini dibuktikan mulai dari melamarku hingga menikahiku.

Begitu pula terkait penghidupan. Pak Nahkodaku “njajah deso milangkori” mencari penghidupan bagi keluarga. Segala profesi pernah dilakoninya mulai jadi mandor gudang, supervisor penjualan hingga kepala cabang. Bahkan terakhir sebelum memutuskan berwiraswasta Pak Nahkodaku adalah General Manager (GM) di sebuah perusahaan swasta di Yogyakarta.

Berbisnis kuliner untuk penghidupan keluarga seperti yang sedang kami geluti sekarang ini juga atas inisiatif orang tersayang yakni Pak Nahkodaku.

SUKA MENGALAH & “NGEMONG”

Namanya saja rumah tangga, kadang ada permasalahan yang muncul karena perbedaan pendapat antara saya dan pak nahkoda. Bila perbedaan ini semakin seru biasanya saya malah yang ngambek.
Kalau sudah begitu, biasanya pak nahkodaku yang mengalah dan meminta maaf duluan walaupun dia tahu sayalah yang seharus minta maaf.

Komitmen kami sejak pacaran dulu memang berlaku sampai sekarang yakni “berebut salah dan bukan berebut benar”. Dengan prinsip inilah akhirnya bila ada masalah dalam keluarga pasti selesai dalam waktu 2 x 24 jam.

Sifat “Ngemong” orang tersayang yang dipilihkan Tuhan bagiku ini ditunjukan dengan sikap tepo sliro, tidak mentang-mentang bahwa dia adalah Nahkoda Rumah Tangga. Kalau ada sesuatu hal terkait dengan kepentingan keluarga, Pak Nahkodaku selalu ngajak diskusi bersama, tidak diputuskan sendiri.

WELAS ASIH & RINGAN TANGAN

Pak Nahkodaku orangnya tidak tegaan, welas asih dan ringan tangan. Siapapun yang minta bantuan dan pertolongan sepanjang tidak melanggaran tata krama dan norma hukum pasti akan disanggupinya tanpa pamrih dan tanpa balas jasa. “Hidup kita bukan untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain, ma. Begitu pula rejeki kita juga bukan karena usaha sendiri semata bisa jadi karena orang lain. Jadi jangan pernah perhitungan untuk berbagi, ma. ” Itu yang selalu dikatakannya.

Lain daripada itu, Pak Nahkodaku paling “crewet” di rumah bila ada sedikit rejeki tetapi tidak segera ‘dibersihkan’ dengan infaq dan shodaqoh.

ROMANTIS & PENYAYANG

Pak Nahkodaku juga romantis, loh. Sejak jaman pacaran hingga sekarang selalu saja ngajak gitaran bareng disamping atau diteras rumah kalau ada waktu senggang. Ada satu lagu yang selalu dinyanyikan bersama yakni “Teardrop – The Radios”. Ini adalah lagu kebangsaan hubungan kami sejak jaman pacaran dulu. “Memory daun pisang, Ma” Kata Pak Nahkodaku. Setelah selesai menyanyikan lagu itu biasanya Pak Nahkoda mencium keningku dan selalu bilang “I Love You, Ma.” Oh, dia memang tepat menjadi orang tersayang bagiku.

Kebiasaan lain pak nahkoda yang romantis adalah suka tidur dipangkuanku kalau sedang berduaan atau nonton TV/film bersama di rumah.

Pak Nahkoda juga seneng menulis puisi. Entah sudah berapa ratus puisi yang telah ditulisnya. Banyak di antara puisi-puisi itu yang dibuat khusus untuk saya. Sebagian puisi yang ditulis oleh orang tersayang itu saya dokumentasikan agar anak-anak saya kelak bisa mengetahui perjalanan kisah orang tuanya.

Mungkin saja keromantisan Pak Nahkoda karena dia suka musik. Konon orang yang suka musik atau suka bermain musik orangnya cenderung romatis. Nah, Pak Nahkodaku malah pernah gabung dengan band karyawan ketika masih bekerja di sebuah perusahaan dulu. Dia yang main gitar. Kalau pas lagi perfrom, Pak Nahkoda selalu mengajak saya dan anak-anak untuk mendampinginya.

Hadiah Smartphone Untuk Pak Nahkodaku

Saya berencana membelikan hadiah smartphone untuk Pak Nahkodaku Tersayang dalam waktu dekat ini. Memang bukan perkara mudah sih agar Pak Nahkoda mau menerima. Perlu sedikit rayuan yang “memaksa”.

Saya paham betul wataknya. Salah satunya adalah tidak mau membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan atau tidak terlalu urgen. Lebih-lebih kalau pakai uang tabungan.

“Sudahlah, ma. Uangnya ditabung saja. Banyak kebutuhan di masa mendatang.” Pasti itu yang dikatanya.

Tetapi kali ini saya ada alasan yang cukup rasional dan Insya Allah Pak Nahkoda pasti memahaminya. Saya butuh tetap terhubung ketika salah satu harus berada di luar rumah untuk urusan tertentu agar tidak kejadian seperti tempo hari.

Karena saya lagi tidak enak badan, tempo hari Pak Nahkoda yang ambil alih menjemput Si Kecil Ayunda pulang sekolah. Kebetulan Blackberry 9320 kesayangannya baterainya soak dan tidak bisa dihidupkan. Sudah usaha cari baterainya sih, tetapi sulitnya minta ampun. Terpaksa dibiarkan tergeletak begitu saja di atas meja. 

Ndilalah, saat jemput itu motor matic yang dipakainya tiba-tiba mogok di tengah jalan. Padahal sebelumnya normal-normal saja. Dulu memang pernah Kejadian motor mogok seperti ini, kata bengkel penyakitnya adalah “Lose Compression”. Entah apa itu. Akhirnya Pak Nahkoda mendorong motor ke bengkel dan pulang jalan kaki untuk mengambil duit. Padahal Kata Pak Nahkoda jaraknya lumayan jauh, kurang lebih 4 km. Coba seandainya pegang HP kan tinggal WA atau BBM, tidak perlu pulang jalan kaki begitu.

Smartphone apa ? Saya pikir Pak Nahkodaku Tersayang pasti akan suka dengan Xiaomi Redmi 4A. Harganya Rp 1.329.000. Ini sudah discount kalau di elevenia. Jelas ini lebih keren bila dibandingkan dengan HP yang dipakainya selama ini. Lagian kebutuhan Pak Nahkoda hanya untuk messenger, baca berita dan dengerin musik, lain itu tidak. Nah loh, hari gini punya smartphone cuman untuk tigal hal itu ?

Iya. Semenjak mengundurkan diri dari dunia kerja Pak Nahkodaku memang menutup semua akun socmednya. Kalau senggang waktu banyak dipergunakan untuk baca berita, nonton berita di TV atau tidur. Lebih asik katanya. Lagian dulu ketika masih punya akun socmed dan twitter juga jarang diupdate. Nah, kalau untuk tiga hal itu spesifikasi Xiomi Redmi 4A ini sangat cocok sebagai hadiah untuk mendukung kebiasaan Pak Nahkodaku.