Cerita Parents

Ketika Anak Perempuanku Sudah Berani Melawan Perintah Orang Tua

Ada kalanya orang tua bingung menghadapi anak yang sudah berani melawan perintah orang tua. Mereka bertanya kenapa ini terjadi, apa penyebabnya, bagaimanakah harus bersikap dan mengatasinya? Nah, ini pengalaman saya, parents.

Mempunyai anak di bawah umur 15 tahun itu butuh usaha extra dalam mendidiknya. Walaupun sudah muncul sikap positif seperti mudah berbagi dan bekerja sama dengan sesamanya, namun amak di usia itu mulai sulit ‘berdamai’ dengan perintah-perintah orang tuanya. Ia mulai membantah, suka protes dan berlaku ‘sak enake dewe’. Begitu pula yang saya alami dengan anak perempuan saya, Ayunda, yang kini duduk di kelas satu SMP. 

Sebagai orang tua, awalnya saya kuwatir. Saya mengira sikap Ayunda ini karena salah dalam bermedia sosial atau karena pengaruh film yang ditontonnya. Namun, saya sendiri tak yakin karena kontrol saya cukup ketat dalam hal ini. Apalagi dia masih menggunakan handphone saya untuk bermedia sosial sehingga saya bisa mengetahui histori aktivitasnya.

Saya relatif sedikit tenang ketika mengikuti kelas parenting melalui group WA yang diinisiasi oleh POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru) di sekolahnya. Ternyata apa yang saya rasakan juga dirasakan sebagian besar orang tua. Dan ternyata hal itu normal dalam perkembangan anak ketika memasuki masa pubertas.

Walaupun secara teoritis hal itu normal, namun saya tak ingin perubahan sikap dan perilaku Ayunda itu menjadi keterusan sehingga ia lupa akan tata krama. Kalau itu terjadi, maka akan menjadi penyesalan terbesar saya sebagai orang tua karena gagal memberi pondasi karakter yang baik baginya.

Apa yang saya lakukan, parents?

melawan perintah orang tua

Hilang Kesabaran Itu Manusiawi, Tapi...

Di antara hari-hari yang telah disibukan dengan aktivitas ekonomi yang melelahkan, sebenarnya sangat manusiawi kalau orang tua hilang kesabaran menghadapi sikap anak yang mulai suka melawan orang tua. Begitu pula saya. 

Jujur, ada kalanya saya pun ingin marah dan menghukumnya. Namun, hati ini selalu bilang kalau anak seusia itu masih belum tahu apa-apa. Ia masih meraba jati diri. Ia hanya merasa sudah punya kebebasan dan kemerdekaan seolah-olah ia sudah besar. Sebuah emosi sesaat yang muncul tiba-tiba. 

Sebagai orang tua, saya menyediakan ruang-ruang berisi kesabaran yang menahan diri untuk tidak melakukannya. Saya pikir marah-marah, berkata keras, kasar, membentak dan melakukan kekerasan untuk menghukum bukan solusi yang elok dalam hal ini. Kalau ini terjadi, justru malah kekerasan bertemu dengan kekerasan. Terus, ujungnya di mana?

Kalau toh pun saya melakukannya dengan mendisplinkan bukan menghukumnya, saya yakin belum tentu Ayunda menjadi takut. Bisa jadi malah semakin memberontak. Mungkin juga akan meninggalkan trauma mendalam. 

Masih untung kalau saya hanya disebut sebagai ibu yang galak, tapi kalau itu menjadi bibit dendam yang terbawa hingga dewasa dan akhirnya ia melakukan hal sama kepada anak-anaknya kelak, bagaimana? 

Tentu saja saya tak ingin meninggalkan legacy yang demikian kepada anak-anak saya, termasuk kepada Ayunda.

Tentang menghukum dan mendisiplinkan anak, coba baca artikel bagus di The Asian Parenting Indonesia,  yakni situs parenting terbesar di Asia dan salah satu blog parenting terbaik di Indonesia, yang berjudul “Apakah Perbedaan Menghukum Anak dengan Mendisiplinkan Anak”

Menegurnya Dalam Dua Menit

Sebagai orang tua saya yang tak ingin sikapnya menjadi keterusan tentu saja tidak jemu untuk menegur, menasehati dan memberi pengertian padanya. Setiap kali ia melakukan hal yang sama, di saat itu pula saya menegurnya bahwa apa yang ia lakukan itu salah.  

Namun, anak seumuran dia itu bukan anak kecil lagi. Cara yang saya lakukan pun berbeda, tidak seperti ketika saya menasehati adiknya yang masih kecil. 

Dalam hal ini saya melakukan apa yang disampaikan oleh dr. Aisyah Dahlan, CHT, seorang Praktisi Neuroparenting Skill yang juga Ketua Asosiasi Rehabilitasi Narkoba Indonesia, yakni memanfaatkan momentum 2 menit.

1 menit pertama, saya langsung menegurnya. Namun dengan bahasa yang mudah dipahami dan dilogika tentang sebab akibat dari perbuatannya yakni kenapa harus begini, kenapa harus begitu, apa akibatnya, dan sebagainya. 

1 menit berikutnya, saya juga memujinya sebagai anak yang baik, sholehah dan sebagainya. Ini saya lakukan untuk membangun citra positif dalam dirinya. Setelah itu biasanya saya memeluknya sembari bilang kalau saya sayang sekali dengannya, dan menaruh harapan besar padanya.  

Memberi Kebebasan Dengan Kesepakatan Tertentu

Menghadapi Ayunda, saya memang harus seperti orang bermain layang-layang, tarik ulur sedemikian rupa agar layang-layang terbang tinggi di udara namun juga tidak terlepas. Saya sepakat untuk tidak mengekang kebebasan dan kemerdekaanya, namun juga tidak ingin membiarkannya kebablasan.

Dalam banyak hal, saya akhirnya memberi ruang berekpresi seluas-luasnya namun dengan kesepakatan-kesepakatan kecil yang bisa diterima. Misalnya, saya mengijinkan ia menonton film drama Korea kesukaanya atau main game online, namun tidak lebih dari tiga  jam sehari. 

Saya juga bersepakat mengijinkannya menulis cerita namun setelah ia selesai mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dan begitu mendengar azan langsung bergegas mengambil air wudhu untuk sholat, tanpa harus diperintah. 

Kebetulan Ayunda memang gemar menulis. Hingga saat ini ia sudah memiliki 6 buku yang diterbitkan oleh Mizan Publishing yakni satu novel solo dan lima karya bersama (antologi). 

Dari hasil menulisnya ini, ia bahkan bisa membeli laptop sendiri untuk berkarya. Semua buku-bukunya tersebut di display website pribadinya, kaylaayunda.my.id.

Merubah Gaya Memerintah Pada Anak

Sebagai orang tua, ada kalanya kita juga berbuat salah. Seiring dengan bertambahnya umur, kita kadang lupa bahwa anak-anak kita juga terus tumbuh besar yang tentu saja ia tak ingin diperlakukan seperti anak kecil lagi. 

Kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah, merperlakukan anak-anak yang sudah tumbuh besar seperti anak kecil.  Kita masih menggunakan gaya memerintah yang disertai ancaman. Tak jarang bahkan dengan nada yang tinggi, seperti seorang komandan peleton tentara kepada anak buahnya.

Jujur awalnya saya juga seperti itu kepada Ayunda. Dulu saya selalu mengancam akan mengambil paksa handphone, atau menyiram air kepadanya kalau tidak segera beranjak untuk sholat. Sedangkan saya sendiri masih melakukan aktivitas.

Ia memang melakukan apa yang saya perintahkan, namun ia melakukan dengan keterpaksaan. Ia menaruh hanphone dengan keras disertai dengan gerutu. Begitu pula ketika sudah waktunya bangun untuk sholat subuh. Cara saya membangunkan yang kasar merangsang Ayunda melakukan hal yang sama. Dan itu sellau berulang.

Perlahan-lahan saya pun mengubah cara. Prinsip yang saya gunakan adalah “You Show Me I Will Remember, You Ask Me I Will Forget.” Saya tidak lagi menerapkan gaya memerintah dengan ancaman namun merubahnya dengan ajakan. Ya karena di waktu yang bersamaan saya juga sudah bersiap melakukan hal yang sama seperti yang saya perintahkan.

Akhir Tulisan

Nah parents, itulah cerita saya ketika anak perempuan saya, Ayunda, mulai membantah dan melawan perintah saya.

Ini bukan tips namun pengalaman empiris yang saya alami. Bisa jadi para parents memiliki pengalaman berbeda dalam mengatasi permasalahan anak yang sudah berani melawan perintah orang tua. 

Apa pun caranya, beberapa hal mungkin sama adalah sebagai orang tua memang mesti bersabar, tidak egois, berempati pada perubahan anak, terus menasehati dengan kehalusan serta memberi contoh yang baik.

Begitu parents, terima kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat dan menginspirasi.    

Sebelum berlalu, lihat video menarik berikut ini,

dokumentasi-warung2

Personal website seorang blogger dari kota Bombay van Java (Brebes)